Terima
Kasih
Oleh,
Ariessya Spm
Krinng …. kring …. Kring … Bel
sekolah berbunyi menunjukkan tepat pukul 09.30, suasana sekolah pun diramaikan
oleh anak-anak yang mungkin kurang kerjaan atau bosan berada di dalam kelas
setelah pelajaran usai. Aneh dari dulu sampai sekarang pasti selalu waktu yang
di gemarkan oleh siswa-siswi di seluruh dunia adalah pada saat bel istirahat
dan bel pulang berbunyi. Ada
apa gerangan? Andai Neptune dapat menjelaskan semuanya, pasti dia tidak akan
hidup di laut terus menerus. Mungkin ?
Terlihat
sudut pandang sekolahan yang sama sekali tidak terlihat mewah, namun tentunya
lebih bermutu dari sekolahan sebelah. Siswa-siswi pinggiran yang bergaya
selangit, lebih terlihat berbahagia hari ini dibandingkan siapapun. Mentari
yang sangat bergairah dari tadi hanya bisa tersenyum, sambil melihat semua
perilaku umat manusia yang bisanya hanya merusak alam semesta ini. Polusi
dimana-mana. Orang bilang ini kota metropolitan. DKI Jakarta gitu! Semuanya berjalan
begitu cepat. Ngga cepat, ngga macet, ngga polusi, itu namanya bukan Jakarta.
Andai semua bisa berjalan dengan lambat, seiring berjalannya waktu. Dengan
semua adat dan ketentuan yang berlaku.
“Velicie Anggraini!!
Ngapain kamu, kok ngelamun aja sendirian ?” terdengar suara yang sangat familiar
di telingaku. Hemm, ternyata Nisa. Lebih tepatnya Venisa Rianti. Sahabatku dari
kecil. Dia seorang yang sangat sempurna di mataku. Dia juga
seseorang yang sangat aku sayang.
”Eh kamu, iya seperti
biasa aku sedang mengamati semua yang ada di sini. Yaa, tapi emang ngga ada
yang berubah sama sekali.”
“Ya
emang kan? Perubahan apa sih yang kamu mau? Kita
raih sama-sama aja, mau ngga?”
“Aku cuma mau di sekolah
ini ngga ada orang bodoh lagi, semuanya bisa jadi orang yang pinter-pinter Nis.
Aku ngga mau ada anak bodoh yang keluar dari sekolah ini. Kaya orang-orang
bodoh yang bisanya cuma pada senyum-senyum ngga jelas di depan media. Padahal
mereka lagi kesangkut kasus, entah korupsi, kolusi, ini lah, itu lahh.. Ngga
jelas deh Nis. Iyakan?”
“Sepakat
yaa,, kita raih bareng-bareng. Oke?”
”Oke
J”
Sejak saat itu, aku dan Nisa mulai
merajut impian bersama di SMA Tunas Jaya. Di sana kami mulai dari sekarang,
tepatnya sejak kami duduk di kelas X semester 2. Suka dan duka kami lakukan
bersama.
*
* *
”Nis,
belajar bareng aku yuk. Sekalian kita ngobrol, udah lama loh kita ngga ngobrol
bareng, semenjak kelas XI ini. Di sekolah ngga ada waktu. Di rumah juga jarang
ada komunikasi, alasannya tugas. Ayo Nis di rumah kamu juga
ngga apa-apa deh”
“Maaf Lice, aku tadi udah
ada janji sama Yuni. Mungkin lain waktu yahh Lice. Maaf”
Untuk yang kesekian kalinya Nisa menolak untuk pergi
bersamaku. Tak tahu kenapa semenjak kelas XI, semenjak aku dan dia tidak
sekelas lagi, dia begitu jauh. Sangat jauh! Tak ada waktu untukku lagi. Aku
selalu ingin dekat dengannya, aku selalu menyayanginya. Tapi Nisa begitu
sempurna. Banyak yang ingin menjadi temannya. Jadi,
sulit untuk Nisa meninggalkan semua teman barunya yang lebih sempurna dariku. Semua
itu begitu nyata! Begitu menyakitkan!
Tapi, mungkin itu hanya sebuah pemikiran kotorku saja.
Pemikiran negatif tentang sahabatku. Mungkin semua cuma salah paham! Aku harus
positif thingking dulu. Lebih berfikiran dewasa. Mungkin benar di kelasnya
lebih banyak tugas dibandingkan dengan kelasku. Mungkin !
Entah ada hawa apa yang masuk ke dalam fikiranku. Tapi
untuk pertama kalinya aku merasa sepi. Tak adakah teman lagi untuk ku? Apa
hanya Nisa orang yang tersisa di dunia ini untukku? Entah lah. Mungkin dewa
keberuntungan sedang tidak memihak kepadaku sekarang.
♫♫ Ada waktu untuk menangis, tuk
tertawa, tuk bertahan saja.
BAHWA
SEMUA AKAN INDAH.
PADA
WAKTUNYA ♫♫
IVAN HANDOJO
Baru kali ini ku rasakan.
Lebih susah menahan dari pada melepas. Aku ingin pergi dari kehidupan Nisa,
tapi aku malah bertahan. Kini semuanya mulai ku lalui sendiri. Aku mulai sadar
bahwa tak ada yang bisa ku lakukan selain diam. Aku tak ingin ada perpecahan di
antara aku dan Nisa. Jadi mungkin, aku yang harus mengalah.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai
ingin bertanya. ’Mengapa Nisa bisa seperti itu kepadaku? Apakah dia
sudah bosan berteman denganku? Apa dia telah mempunyai banyak teman baru yang
lebih sempurna dariku? Apa iya?’ Semua pertanyaan itu sentak muncul di dalam
otak ku. Tapi pada siapa aku harus bertanya? Aku bukan seorang penyanyi yang
bisa bertanya pada rumput bergoyang! Coba aku bisa berfikir lebih jernih lagi.
Yaa.. Akan ku tanyakan pada Nisa. Tapi mungkin lewat sms saja cukup. Aku harus
menanyakannya.
ME
Nisa, kamu kenapa
sih akhir-akhir ini? Kamu ngejauh dari aku? Sudah bosan berteman denganku? Bilang
aja Nis jujur dari awal
VENISA
ME
Kamu berubah Nis
!! kamu ngejauh dari aku T.T aku sedih Nis, aku sayang sama kamu, aku ngga bisa
jauh dari kamu. Kamu satu-satunya sahabat aku. L
VENISAAku juga sayang sama kamu Lice. J Maaf, bukannya aku ngejauh kok,
Aku ngga habis fikir. Nisa bisa dengan gampangnya ngomong
kaya gitu. Mungkin emang benar, Nisa sudah punya yang lebih baik dari pada aku.
Sekarang aku sadar kalau aku ngga akan bisa gantiin semua temen-temen baru Nisa
di matanya. Dan aku juga ngga akan bisa gantiin Nisa dengan semua teman-teman
ku. Lalu apa lagi sekarang yang harus aku lakukan? Aku masih sayang dengannya,
jadi ku putuskan untuk ‘bertahan’.
*
* *
♫♫ When will I
see you again ..
You
left with no goodbye, not a single word was said
No
final kiss to seal any sins
I
had no idea of the state we were in
I
know I have a fickle heart and bitterness
And
wandering eye and heaviness in my head
But
don’t you remember?
Don’t
you remember?
Why
don’t you remember? L
The
reason you loved me before
Baby,
please remember me once more … ♫♫

Kapan aku bisa melihatmu
lagi? Aku selalu merindukanmu. Tapi, kenapa kamu tidak mengingat semuanya.
Apakah kamu benar-benar tidak mengingatnya? Semua tentang kita? Ini benar-benar
tidak msuk akal. Namun, yasudah lah. Aku tak ingin memaksamu untuk terus
bertahan di hidupku.
Jika
aku melihat sahabatku tersenyum, aku akan ikut tersenyum. Tapi jika aku melihat
sahabatku menangis, aku bukan hanya menangis. Melainkan seluruh jiwaku serasa
di tusuk paku yang sangat tajam. Bukankah itu sangat menyakitkan? Tapi rasa
sakit itu sudah tidak berarti lagi. Kini aku sudah terbaring lemah, merasakan
satu per satu selang masuk dari pergelangan tanganku. Aku di infus, karena
penyakit yang tak kunjung sembuh.
Sejak
lima bulan yang
lalu, aku sudah merasakan hal yang tidak wajar. Namun, sebulan yang lalu aku
baru tau kalau ternyata aku mengidap penyakit kanker darah stadium akhir. Hari
itu sungguh menyakitkan bagiku. Bukan karena penyakitku, tapi karena Nisa tidak
hadir di sisiku saat aku sedang benar-benar membutuhkannya.
* * *
“Tok .. Tokkk …. Tok …” Suara pintu kamarku.
“Siapa gerangan? Apakah
seorang dokter yang akan menggeretku ke rumah sakit lagi? Di mana mama? Mengapa
dia membiarkan ada orang yang masuk, dan tiba-tiba orang itu ingin masuk ke
kamarku. Ahh sudah lahhh!!!” gumamku kesal.
“Lice... ini aku ..” suara
lirih menyapaku, dan menarikku dari semua lamunanku. Suara itu adalah suara
yang sudah lama tak terdengar di rumah ku. NISA !
“Maaa.. suukkk.” Suaraku
terbata-bata. Ngeekk.... Pintu pun terbuka, terlihat sosok cantik yang selalu
ku kenal. Venisa Rianti. Orang yang sangat ku sayang.
“Kamu sakit apa Lice? Kok
sampai lemas begitu? Ngga kerumah sakit?” ucapnya cemas.
“Ngga kok, aku ngga
apa-apa. J Ini Cuma demam
biasa” tukasku lembut.
“Yaudah, kamu
banyak-banyak istirahat ya. Jaga kesehatan kamu ya. Maaf aku ngga bisa
lama-lama disini. Aku udah ada janji dengan Yuni.”
“Yuni lagi? Kapan sih kamu
ada waktu panjang buat aku? Mungkin nanti ya kalau aku sudah mati ! Ups..
Maaf”
“Kamu nih apaan sih.
Aku mau ngerjain tugas sayang. Aku butuh bantuan Yuni. Assalamu’alaikum.“ Nisa
seraya keluar dari kamarku, meninggalkanku sendirian lagi.
“Wa’alaikum salam. Yaa
mungkin dia lebih sempurna dariku, tapi maaf kalau nanti aku pergi tanpa jejak.
Maaf“ gumamku sejenak.
Aku
hanya ingin Nisa mengerti. Seluruh hidupku kini tak berarti lagi. Tanpa semua
hal yang menyenangkan, kini untuk apa aku hidup? Aku ingin Tuhan lebih cepat
menjemputku. Tuhan,, mengapa engkau menyiksaku seperti ini? Apa aku tak bisa
bahagia? Apa aku tak bisa bermimpi barang satu malam saja? Apa hanya ada kisah
yang menyedihkan dalam hidupku? Apa salahku?
Aku tak ingin menjadi manusia yang
selalu di penuhi oleh kebahagiaan. Karena aku tau, tak ada kehidupan yang
sempurna. Tapi aku hanya ingin mempunya satu bintang dalam hidupku. Yang bisa
selalu menyinari hidupku yang kelam. Apa itu salah?
Sudahlah, mungkin ini saatnya aku
mulai menulis semuanya di secarik kertas. Mengeluarkan semua yang ada di dalam
hatiku. Semuanya. Setidaknya itu bisa membuat semuanya menjadi lebih baik.
Namun, tiba-tiba tetes demi tetes
darah pun mengalir dari hidungku lagi. Semua kelam, gelap kelabu.
Dan------------
*
* *
Saat mataku mula melihat sepucuk
cahaya. Aku bahkan tak percaya kalau aku masih ada di dunia. Naas,, ternyata
aku sedang berada di Rumah Sakit. Tik. Tok. Tik. Tok. Sunyi senyap, hanya
terdengar suara jam dinding di sudut ruangan, dan hanya mama yang menemaniku.
Mama senantiasa menemaniku, tertidur di sampingku. Tangannya menggenggam erat
tanganku seakan tak ingin kehilanganku.
Tapi maafkan aku ma, aku sudah tak berdaya lagi !
Aku mulai berusaha untuk duduk,
namun mama terbangun. Dari raut wajahnya, ia sangat khawatir
denganku.
“Kamu sudah sadar
sayang?“ ucapnya penuh harap.
Namun aku hanya bisa
tersenyum. Walau semua sulit ku lakukan, aku ingin selalu terluhat ceria di
depan mama. Aku sayang mama. Aku tak ingin mengecewakan mama. Lalu, dengan
penuh sesak di dada ku ucapkan secarik kata untuk mama.
“Ma, maafin Velicie ya
biat selama ini. Velicie udah ngerepotin mama. Udah selalu nyusahin mama. Mama
mau kan maafin Velicie?”
“Engga sayang, kamu jangan
berfikiran seperti itu dong. Mama sama sekali ngga pernah berfikiran seperti
itu sayang” pelukan hangat mama menyambutku.
“Ma, aku boleh minta
kertas dan pulpen?”
“Untuk apa sayang?” tanya
mama heran
“Aku
hanya ingin menulis sejenak. Mama tau kan hobi aku itu nulis? Nanti kalo
tulisannya udah jadi, aku kasih mama sama Nisa. Ya ma?”
”Oh,
ya. Tapi jangan sampai kecapaian ya sayang” ucap mama seraya memberikan secarik
kertas dan bolpoin kepadaku.
”Makasih
mama sayang” ucapku dengan wajah yang berbingar-bingar.
=========================================================================================
"Sebelumnya, terima kasih ya buat semuanya. Semua yang udah kamu kasih buat aku. Semua canda tawa itu. Aku harap semuanya bukan rekayasa belaka ya. Aku sayang kamu, Cuma kamu. Ohya.. Sekarang kan tanggal 31 Maret, 2 hari lagi kan kamu ulang tahun. Maka dari itu, aku membuat kado ini untukmu. Dan mungkin ini merupakan barang kenang-kenangan terakhir dari aku buat kamu Nis. Happy Birthday, wish you all the best kawan J
Harapan terbesar aku saat ini adalah, di atas batu nisan ku tertulis tanggal 2 April 2014 sebagai hari kematianku. Dan itu 2 hari lagi kan, hari ulang tahunmu Nis. Kamu tau kenapa? Supanya kamu selalu bisa mengenangku di hari bahagiamu.
Nis bolehkah aku sedikit bercerita padamu? Tentang kehidupanku yang telah berlalu? Aku mengidap kanker darah stadium akhir. Mungkin kamu ngga tau dan ngga mau tau kan Nis? Itu ngga penting kan buat kamu?
Aku
emang aneh Nis!
Disaat kamu sibuk, sentak aku langsung berpura-pura sibuk. Tapi itu Cuma cara kamuflase aku aja buat ngurangin jenuh dan buat ngumpetin rasa sakit hati. Kalau aku nangis, itu bukan berarti aku cengeng. Itu mungkin karena aku cuma bisa diam dan berkamuflase lagi menjadi orang yang lebih kuat.
Aku
emang cewek aneh yah Nis?
Cewek aneh yang Cuma bisa menulis surat, dan meratapi nasib. Mungkin kamu ngga tau sedang apa aku sekarang. Tapi aku selalu tau apa yang kamu lakukan setiap hari.
Mungkin kamu ngga peduli sama semua itu. Tapi menurut aku, hidup kamu lebih penting dari hidupku sendiri. Saat aku diam, itu bukan berarti aku marah. Aku Cuma lagi mempersilahkan kamu, supaya kamu bisa menjadi orang pertama yang bisa menghiburku saat itu. Tapi kenyataan berkata lain. Kamu malah cuekin aku, acuhin aku. Nah anehnya lagi, yang tadinya aku mau pergi jauh dari hidup kamu, tapi aku malah bertahan dari semua ini.
Saat kebahagiaan datang, aku ingin tak ada yang bisa menggangguu. Aku ingin semua kehidupanku berhenti sejenak. Aku ingin semuanya tidak terbuang, tidak terkenang.
Maaf jika selama ini aku hanya menjadi benalu dalam hidup kamu. Tapi demi Tuhan, aku sama sekali tidak bermaksud untuk itu. Aku sadar, aku orang yang sempurna jadi aku tak pantas untukmu. Tapi tahukah kamu, ”you kill me, but I always in your life. Today, tomorrow, and forever” mungkin. Tapi saat kamu baca semua ini, kenyataan itu semuanya berubah lagi. Aku sudah menuruti apa yang kamu mau J Bukankah kamu senang? Sudah! Jangan menangis sayang.
Aku akan selalu mengenangmu dengan semua canda tawamu. Bukan semua tangis yang kau berikan untukku. Maka dari itu, aku ingin kamu mengenang semua canda tawaku. Bukan penyakitku atau apapun kesalahanku yang telah membuatmu sedih. Maafkan aku untuk selama ini kawan.
Mungkin selama ini aku tidak menangis dari semua perlakuanmu kepadaku. Tapi, itu semua sangat menyakitkan.
Mungkin selama ini aku tidak pernah bicara. Tapi aku
merasakan semuanya.
Mungkin aku tidak pernah berkata jujur tentang semua ini kepadamu. Tapi aku perduli. Terima kasih atas semua yang telah kamu beri kepadaku. Semua impian kita yang kelabu, aku harap kamu bisa mewujudkannya. Aku sayang kamu Venisa Rianti.
Velicie Anggraini=======================================================================
Pulpen pun terjatuh lagi,
tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttt…..
Nyawaku
melayang ………………………………………………….. 31 Maret 2013.
Waktu terasa semakin kelabu.
Tinggalkan cerita tentang kita. Akan tiada lagi kini tawamu.
Tuk hapuskan semua sepi di hati.
Ada cerita tentang aku dan dia
dan kita bersama saat dulu kala.
Ada cerita tentang masa yang indah.
Saat kita berduka, saat kita tertawa. Teringat di saat kita tertawa bersama.
Ceritakan “semua tentang kita”
Prolog
Di pemakaman, Nisa dan Mama terus
menatapi makam Velicie. Tatapan Nisa penuh sesal, namun mama
hanya bisa memberikan sebuah catatan yang Velicie buat kamarin, di hari terakhirnya.
Mama tak tahu kalau itu adalah surat untuk seorang Venisa Rianti. Semua tak ada
yang menyangka.
“Nis, kemarin Velicie
nitip ini sama tante, kayaknya itu buat kamu deh” menyodorkan surat itu kepada
Nisa
“Apa ini tante?” tanya
Nisa heran.
“Tante juga kurang
tau, kamu baca sendiri saja ya.” Menepuk pundak Nisa, seraya mama menjauh dari
makan Velicie.
“Makasih tan ..”
“Sama-sama”
Waktu terasa semakin kelabu.
Tinggalkan cerita tentang kita.
Akan tiada lagi kini tawamu.
Tuk hapuskan semua sepi di hati.
ada cerita tentang aku dan dia
dan kita bersama saat dulu kala.
ada cerita tentang masa yang indah.
saat kita berduka, saat kita tertawa. Teringat di saat kita tertawa bersama.
Ceritakan semua tentang kita
Setelah beberapa menit Nisa membaca
surat itu sendiri di depan makam Velicie, Nisa pun menangis penuh sesal. Dia
tak menyangka akhirnya akan seperti ini. Tapi, inilah dunia. Semua penuh
misteri. Kita sebagai manusia yang cerdas, harus pintar dalam memilah suatu
keadaan, jangan sampai terperosot ke dalam jurang yang curam.
![]() |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar